Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

IDI: Peran warga gampong penting untuk mengontrol setiap pemudik

  • Bagikan
IDI: Peran warga gampong penting untuk mengontrol setiap pemudik thumbnail

Banda Aceh (ANTARA) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh menyatakan peran masyarakat gampong atau desa sangat penting untuk mengontrol penerapan protokol kesehatan kepada setiap warga yang pulang kampung atau mudik, dalam upaya mencegah lonjakan kasus COVID-19.

“Peran masyarakat di gampong, tetangga, sangat penting kalau ada warga asing dari luar, boleh ditanyakan kepada mereka apakah sudah swab, bukti swab, apakah mereka yakni mereka aman dari COVID-19,” kata Ketua IDI Aceh Safrizal Rahman di Banda Aceh, Selasa.

Safrizal menjelaskan penularan COVID-19 bisa terjadi kapan saja dan dimana pun. Hal ini juga dipicu karena masyarakat lalai dan tidak memperdulikan setiap pendatang di gampongnya sehingga memungkinkan seseorang itu sebagai terinfeksi atau pembawa (carrier) virus corona.

“Kemungkinan orang tertular COVID-19 itu karena kita lalai dengan orang-orang yang datang, walaupun keluarga dekat, saudara kita, maka penting peran aktif dari masyarakat untuk mengontrol, ini yang kita harapkan,” katanya.

Dia menjelaskan dalam beberapa bulan terakhir penambahan kasus COVID-19 di Aceh dibawah angka 10 orang, namun selama dua pekan terakhir kasus positif baru rata-rata bertambah di atas angka 50 orang setiap harinya.

Disamping itu, IDI mengapresiasi Pemerintah Aceh yang telah mengeluarkan beberapa instruksi dalam pengendalian kasus, seperti melarang setiap aparatur sipil negara (ASN) mengadakan buka puasa bersama dan memberi sanksi bagi pelanggar serta juga pengetatan perbatasan.

“Terutama saya ingin mengimbau penutupan pergerakan manusia ini bukan hanya berbasis provinsi, tapi juga dilakukan di berbasis kabupaten. Artinya virus corona sudah ada di Aceh, kalau ruang gerak keluar provinsi tidak boleh tetapi dalam provinsi boleh maka juga akan menularkan kemana-mana,” katanya.

Selanjutnya, IDI juga menyarankan kepada pemerintah agar membuat lampu khusus di setiap rumah sakit di Aceh, dengan tujuan sebagai penanda kepada masyarakat bahwa ketika lampu itu hidup maka masih ada warga yang dirawat akibat COVID-19, dan pandemi belum berakhir.

“Orang yang lewat, melitas, mengingatkan bahwa masih ada pasien yang dirawat karena COVID-19, ini penting. Bukan untuk menakut-nakuti tapi memberi tanda kepada masyarakat untuk waspada, kita belum aman,” katanya.

Kemudian, menurut dia, pandemi tidak bisa dilawan jika hanya pemerintah, dokter atau tenaga medis lainnya saja yang bergerak, tetapi dibutuhkan kerjasama dari masyarakat untuk bersama-sama melakukan pengawasan.

“Apalagi saat ini masyarakat seperti normal saja, seperti tidak ada pandemi, saya khawatir setelah lebaran (1442 hijriah) kasus COVID-19 kita akan meningkat,” katanya lagi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *