Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

Harga daging meugang Idul Fitri di Banda Aceh Rp 170 per kilogram

  • Bagikan
Harga daging meugang Idul Fitri di Banda Aceh Rp 170 per kilogram thumbnail

Banda Aceh (ANTARA) – Harga daging di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh naik saat tradisi meugang menyambut lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah tembus Rp170 ribu per kilogram untuk kualitas bagus.

“Harga untuk daging yang bagus kita jual dengan Rp170 ribu per kilogram, ini naik dari hari biasanya sekitar Rp140 ribu per kilogram,” kata Abdul Azis, pedagang daging sapi di Pasar Lambaro Aceh Besar di Aceh Besar, Selasa. 

Namun, kata Aziz, untuk harga normal daging meugang lebaran ini bukan kualitas terbaik bisa dibeli dengan harga Rp140 ribu sampai Rp150 ribu per kilogram.

Abdul Azis mengatakan kenaikan harga daging meugang Idul Fitri ini tidak terlalu signifikan ketimbang meugang Ramadhan lalu yang mencapai Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. 

Hal itu karena adanya beberapa sapi yang disubsidi oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan Aceh dalam rangka menjaga kestabilan harga. 

“Tahun ini ada beberapa sapi yang di subsidi oleh pemerintah kepada para pedagang daging di wilayah kami, maka dari itu kenaikannya tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Menurut Azis, kenaikan harga daging di hari meugang ini memang sudah sewajarnya. Hal itu disebabkan sapi yang dibelinya pun juga relatif mahal, sehingga perlu penyesuaian harga kembali.

Sementara itu, harga daging di Pasar Beurawe Banda Aceh tidak jauh beda Rp 170 ribu per kilogram untuk kualitas bagus, sedangkan kualitas di bawahnya dijual dengan harga Rp150 ribu per kilogram. 

“Harga daging Rp 170 yang kualitas bagus, naik sedikit dari harga saat hari biasa yang dijual Rp140 ribu per kilogram,” kata pedagang daging Pasar Beurawe Mayadi.

Sedangkan untuk tulang, lanjut Mayadi, juga naik Rp20 ribu dari hari biasa yang hanya Rp60 ribu per kilogram. Kini harus dijual dengan harga Rp80 ribu per kilogram. 

Mayadi menuturkan, meugang lebaran Idul Fitri ini sangat sepi pembeli ketimbang meugang menyambut Ramadhan lalu. Namun, ia dapat memahami hal ini disebabkan faktor ekonomi masyarakat. 

“Sepi pembeli meugang ini, mau kita bilang bagaimana lagi, mungkin ini faktor ekonomi masyarakat juga,” kata Mayadi.


 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *