Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

Ramadhan Momentum Evaluasi Diri

  • Bagikan
Ramadhan Momentum Evaluasi Diri thumbnail

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd

Wakil Ketua III STAI Tgk. Chik Pante Kulu

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah).

Sudah banyak disebutkan dari berbagai sumber baik dari Alquran, hadits dan juga kitab-kitab para ulama akan keutamaan bulan Ramadhan, bulan yang dipenuhi dengan ampunan Allah dan momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Namun momentum ini akan terlewati begitu saja jika hanya terlena dengan pekerjaan yang sia-sia atau tingkah laku yang tidak mencerminkan seorang Muslim yang baik di bulan suci Ramadhan. Seperti halnya hadits yang telah disebutkan di atas.

Ada banyak hikmah dan rahasia di dalamnya. Tidak semua orang mengerti tujuan dari ibadah puasa. Makanya, tidak heran bila ada yang berpuasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah puasa yang ia dilakukan.

Evaluasi diri juga bisa dilakukan terhadap puasa itu sendiri, dengan kata lain apakah puasa kita sudah mencapai seratus persen derajat muttaqin atau tidak. Maka dalam hal ini bisa digunakan standar puasa sebagaimana yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ `Ulumuddin. Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan puasa. Pertama, puasa orang awam (`am), adalah puasa orang-orang umumnya, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta mencegah kemaluan dari bersenggama sejak menjelang Shubuh hingga Maghrib. Ini adalah tingkatan puasa paling rendah.

Kedua, puasa khusus (khawwash), yaitu puasa yang tidak hanya sekadar menahan diri dari memenuhi keinginan perut dan berhubungan suami istri di siang hari, tetapi juga menjaga pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Untuk bisa masuk pada tingkatan ini, seorang Muslim sedikitnya harus menjaga diri sekaligus menjauhkan diri dari 6 (enam) jenis perbuatan berikut: 1), Menahan diri dari melihat, memandang segala hal yang dicela dan dimakruhkan yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. 2). Menjaga lidah dari perkataan sia-sia seperti mengumpat, berbohong, berkata keji, ucapan yang dapat merenggangkan persaudaraan, ucapan kebencian, atau mengandung riya’. Sehingga seorang Muslim yang berpuasa lebih baik berdiam diri dan menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah maupun membaca Alquran.

3). Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Ucapan yang haram diucapkan, haram pula untuk didengarkan. 4). Mencegah anggota tubuh lain dari perbuatan dosa dengan menghindari dari segala sesuatu yang makruh, mencegah perut mengonsumsi hal syubhat saat waktu berbuka.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *