Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

Pasie Raya Dinilai Jadi Sapi Perah, Pemerintah dan Pengusaha Untung, Masyarakat Makan Debu

  • Bagikan
Pasie Raya Dinilai Jadi Sapi Perah, Pemerintah dan Pengusaha Untung, Masyarakat Makan Debu thumbnail

Laporan Riski Bintang | Aceh Jaya

SERAMBINEWS.COM, CALANG – Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya saat ini menjadi salah satu kawasan yang memiliki perusahaan galian C terbanyak di kabupaten tersebut.

Keberadaan galian C yang menguntungkan pemerintah Aceh melalui pajak dan retribusi tersebut ternyata menyisakan sejuta penderitaan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang lintasan truk angkutan material galian C.

Seperti yang disampaikan salah seorang tokoh masyarakat Pasie Raya kepada Serambinews.com, dimana hampir setiap harinya mereka dan anak-anak dipaksakan menghirup debu yang diakibatkan dan jalan rusak.

Menurutnya, kondisi jalan rusak yang diduga disebabkan oleh truk berukuran besar melintasi jalan itu dengan dan tanpa memperdulikan tonase yang beberapa waktu lalu dinilai PUPR Aceh Jaya melebihi kapasitas.

“Jangan jadikan pasie raya sapi peras, Pemerintah dapat pajak dari galian c, dan pengusaha dapat untung,” tandas Nasri Saputra tokoh muda Pasie Raya.

“Sementara masyarakat Pasie Raya dapat buntung, anak-anak mereka tiap hari mengisap dan makan debu, Sementara anak pengusaha galian c makan Pizza dari hasil bumi Pasie Raya,” tambahnya.

Baca juga: Plt Bupati Dailami Imbau Warga di Bener Meriah Jangan Bakar Lahan

Baca juga: Albert Einstein Pernah Prediksi soal Kehancuran Israel, Tertulis Dalam Surat Singkat

Baca juga: Anggota Parlemen Penghasut Kerusuhan di Jordania Ditangkap

Dalam rilis yang diterima, Nasri Saputra berharap agar ada perhatian khusus sebagai wilayah penyumbang pajak galian c agar dapat diberikan anggaran perbaikan dan peningkatan jalan.

“Jalan harus diperbaiki dan ditingkatkan, sehingga tidak rusak lagi, jangan jadikan kami sapi peras,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap agar ada kepedulian dari para pengambil keuntungan di kawasan tersebut seperti melakukan penyiraman yang efektif, dan bukan asal ada siram.

“Sekarang ada tiga perusahaan skala PT angkutan mereka mobil besar beroperasi dikawasan sana, harusnya mereka saling berkoordinasi bagaimana kepedulian terhadap dampak lingkungan,” cetusnya.(*)

Penulis: Riski Bintang

Editor: Taufik Hidayat

video pilihan

Panik karena Air Laut Surut Pasca-gempa Magnitudo 6,1, Warga Maluku Tengah Pilih Mengungsi ke Hutan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *