Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

Demo Kejari Lhokseumawe, Mahasiswa: Segera Tetapkan Tersangka Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa

  • Bagikan
Demo Kejari Lhokseumawe, Mahasiswa: Segera Tetapkan Tersangka Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa thumbnail

LHOKSEUMAWE – Sejumlah mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) menggelar aksi demo di depan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe, Rabu, 23 Juni 2021. Mereka meminta Kejari Lhokseumawe segera menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan lanjutan tanggul Cunda-Meuraksa Lhokseumawe sumber dana Otsus tahun 2020.

Pantauan portalsatu.com, mahasiswa pengunjuk rasa mengusung poster bertuliskan “Tetapkan dalang dan wayang kasus korupsi tanggul Cunda-Meuraksa”, “Hukum bukan untuk dikangkang”, “Usut tuntas kasus proyek tanggul Cunda-Meuraksa”. Aksi demo tersebut dikawal personel kepolisian.

Baca: BPKP Aceh Serahkan Hasil Audit Proyek Tanggul Cunda-Meuraksa ke Kejagung, Kejati, dan Kejari

Koordinator lapangan, Yudi Ansyah Katiara, mengatakan, pihaknya meminta Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lhokseumawe menindaklanjuti hasil audit BPKP Perwakilan Aceh terhadap kasus tersebut. “Karena dari dugaan proyek fiktif pembangunan tanggul Cunda-Meuraksa Lhokseumawe itu, BPKP telah menemukan kerugian negara mencapai Rp4 miliar lebih,” ujarnya.

“Oleh karena itu, kita meminta pihak Kejari Lhokseumawe segera menetapkan tersangka. Kajari harus menegakkan hukum seadil-adilnya. Jika Kajari tidak bisa menyelesaikan kasus dugaan korupsi ini, maka kami meminta Kajati Aceh agar mengambil alih penanganan kasus proyek tersebut,” kata Yudi Ansyah Katiara kepada wartawan usai aksi di depan Kantor Kejari Lhokseumawe.

[Foto: portalsatu.com]

Setelah para mahasiswa berorasi, mereka dipersilakan masuk ke Kantor Kejari untuk beraudiensi dengan Kajari Lhokseumawe, Dr. Mukhlis, S.H., M.H., didampingi Kasi Intelijen Miftahuddin, S.H., M.H. Dalam pertemuan itu, mahasiswa meminta penjelasan dari Kajari, sejauh mana sudah penanganan kasus tersebut.

“Pembangunan fisik (tanggul Cunda-Meuraksa) itu ada, sudah dikerjakan lebih dulu. Dan itu sudah tercatat sebagai aset pemerintah sekarang. Kemudian diakalin untuk membayarnya oleh pemerintah (Pemko Lhokseumawe) karena dikerjakan terlebih dahulu. Namun, (soal) tidak ada pekerjaan (yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2020), itu karena sudah dikerjakan sebelumnya,” kata Mukhlis memberikan penjelasan kepada mahasiswa.

Mukhlis melanjutkan, ketika pihaknya sedang melakukan pemeriksaan terhadap pihak terkait, rekanan kemudian mengembalikan uang proyek sumber dana Otsus itu ke Kas Daerah Pemko Lhokseumawe. “Fisiknya (tanggul) masih ada, barangnya (uang) ada, tapi melanggar hukum cara membuatnya, dan apakah semua itu korupsi? Perlu disampaikan bahwa fiktif yang dimaksud itu adalah tidak ada sama sekali pembangunan, tetapi ini (proyek tanggul Cunda-Meuraksa) ada dikerjakan,” tutur Kajari Lhokseumawe itu.[]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *