Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

Kompilasi ajak masyarakat Simeulue peduli sampah

  • Bagikan
Kompilasi ajak masyarakat Simeulue peduli sampah thumbnail

Simeulue (ANTARA) – Komunitas Peduli Laut Simeulue (Kompilasi) mengajak masyarakat di kabupaten kepulauan itu untuk peduli sampah dengan cara tidak membuang sampah sembarangan ke laut maupun sungai.

Taufiq, pendiri Kompilasi di Simeulue, Rabu, mengatakan komunitas yang berdiri sejak 2016 itu fokus kepada kebersihan lingkungan laut dan sungai di Pulau Simeulue.

“Tujuan kami murni menjaga laut agar tetap bersih dari sampah. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat peduli sampah dan tidak membuangnya sembarangan,” kata Taufiq.

Selain peduli sampah, komunitas ini juga menanami mangrove sebagai pelindung dari abrasi pantai.

Alasan berdirinya komunitas itu karena prihatin melihat kondisi laut Simeulue yang semakin hari semakin memburuk akibat banyaknya sampah serta pohon mangrove sebagai penjaga abrasi pantai banyak yang ditebang masyarakat.

Komunitas didirikannya bersama dua rekan lain, yakni Suharmadi Bitel, dan Afrian Amin, Taufiq mengatakan itu tidak terikat dengan berbagai unsur seperti politik dan hal lainnya.

Komunitas yang telah menerima berbagai penghargaan baik itu dari Bupati Simeulue, Wakil Bupati Simeulue, serta berbagai penghargaan lainnya itu mendapat dana kegiatan dari hasil sumbangan sukarela dari anggota komunitas itu sendiri.

“Kami tidak mendapat sumbangan dana apa pun, dari siapa pun. Untuk biaya kami dalam bekerja hasil sumbangan dari anggota Kompilasi. Kamis hanya berharap masyarakat Simeulue untuk turut serta peduli lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan,” kata Taufiq.

Ketua Kompilasi Suharmadi Bitel mengatakan sejak didirikan, komunitas dipimpinnya beberapa kali berganti nama. Mulai dari Komunitas Peduli Sampah Plastik (KPSP).

Kemudian berganti menjadi KPLLDS (Komunitas Peduli Lingkungan Laut Daerah Simeulue), selanjutnya diganti lagi dengan nama KPLLD (Komunitas Peduli Laut Daerah), terakhir dengan namanya Kompilasi.

“Kami ganti nama karena banyak orang memanfaatkan komunitas ini. Ada untuk unsur politik, ada juga memanfaatkan untuk meminta uang kepada pihak lainnya. Padahal komunitas ini kami bentuk murni membantu menjaga lingkungan di Simeulue ini, tidak ada unsur lainnya,” ucap Suharmadi Bitel.

Menurut Suharmadi Bitel, hasil dari kegiatan komunitas telah dapat dilihat. Di beberapa titik sampah mulai berkurang. Selanjutnya, penanaman mangrove juga telah mulai tumbuh subur. 

“Kalau untuk mangrove sudah bisa dilihat langsung hasilnya. Selain pohonnya telah tumbuh subur, juga hasil lautnya seperti kepiting, udang, juga telah bisa diambil,” tutur Suharmadi Bitel.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *