Menu
Apapun yang terjadi di Aceh, Anda yang pertama baca beritanya.

Pulo Aceh: Mutiara di Ujung Sumatera (3-Tamat)

  • Bagikan
Pulo Aceh: Mutiara di Ujung Sumatera (3-Tamat) thumbnail

Oleh: Juanda Djamal

Ketua Fraksi Partai Aceh di Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Besar Periode 2019-2024.

Potensi Hijau-Biru Pulo Aceh

Pulo Aceh menyimpan kekayaan alam yang lengkap. Allah telah menakdirkan demikian, hampir keseluruhan bagian pulau di Pulo Aceh memberikan tanda demikian. Yaitu, potensi hijau di mana pegunungan yang terbentang memiliki tanah yang subur untuk bercocok tanam, maka “lawang dan kelapa” menjadi primadona ekonomi warga Pulo suatu ketika.

Buktinya jelas terlihat. Sepanjang jalan yang kami lalui dari Lamteng sampai ke Deudap, Alue Riyeung, Rabo, dan Pasie Janeng, terpampang pohon lawang yang sudah tinggal rangka dan kelapa yang menua, itu bukti bahwa keduanya pernah menjadi primadona.

Tentunya, selain lawang dan kelapa, kualitas buah-buahan seperti mamplam dan lainnya juga sangat bagus kualitasnya. Bahkan, potensi padi di kawasan Gampong Rabo dan Alue Reuyeung memiliki kualitas yang baik, tetapi sampai saat ini mereka tidak memiliki bendungan sehingga hanya sebagian kecil yang bisa dua kali musim tanam. Persawahan Pulo Nasi yang terbentang sekira 140 ha tersebut menambah panorama alam yang begitu indah nan hijo-biru, karena berlatar teluk Reuyeung.

Selain potensi alam hijau, pulau nasi juga sangat kaya dengan potensi alam biru-nya, keindahan pasir putih sudah terlihat sejak kapal Papuyu memasuki teluk Lamteng, air lautnya begitu bening sehingga menampakkan segala biota laut dari atas kapal. Tampak beragam jenis ikan, karang dan potongan kayu di dasar laut, deru ombak kecil memantul sinar matahari yang berkilauan menerpa mata setiap orang.

“Alam yang indah, pantai, pegunungan dan laut, semuanya memiliki daya tarik wisatawan,” kata Doto Murdani.

Setelah selesai salat Jumat dan makan siang, selanjutnya langsung bersegera mengunjungi beberapa tempat wisata. Kami menggunakan sepeda motor, agar lebih mudah untuk mencapai tempat-tempat tersebut.

Tempat pertama, kami menyusuri jalan Deudap ke Teluk Reuyeung. Kami melewati persawahan dan gedung puskesmas yang menjadi polemik awal tahun 2021. Puskesmas ini semestinya bisa siap tahun 2020, tetapi dikarenakan kontraktor yang mengerjakan tidak professional, maka tidak selesai. Publik memprotesnya, tetapi kita juga tidak paham, kenapa pihak ULP Aceh Besar memenangkan perusahaan yang tidak laik ‘terbang’ tersebut, “Mungkin ada udang di balik bakwan”.

Saat kami menyusuri perkampungan Alue Reuyeung, tampak air tergenang dan beberapa warga tengah memanggul cangkul. Mereka bergotong-royong untuk membuat parit agar air bisa mengalir ke laut.

Keasrian pantai Teluk Reuyeung ini memang sangat terkenal. Bahkan kami dengar, pantai ini yang ditawarkan oleh Pemerintah Aceh untuk pihak investor dari UAE (Uni Emirat Arab), meskipun pantainya kelihatan penuh sampah kayu dan plastik. Saat itu, saya temukan banyak juga sampah plastik dari produksi perusahaan-perusahaan manca negara, saya ambil satu,”toilet cleaner, made in Norway”. “Mungkin dibuang dari kapal yang melintas Pulo Aceh,” gumam saya dalam hati.

Pantai Alue Reuyeung memang sangat eksotik, pantainya berpasir putih dan memiliki gelombang yang juga bisa dimanfaatkan bagi yang suka surfing. Ada kawasan yang terbuka seluas 4 hektar, sehingga cocok untuk pengembangan penginapan dan restauran, juga memiliki hilir sungai dari pegunungan dengan air tawar. Sisi kanan pantai memiliki dinding bebatuan yang sangat cocok untuk dikembangkan penginapan terapung. Bisa kita katakan, keindahan Teluk Reyeung dan pantainya sangat menawan mata dan menghilangkan kepenatan hiruk-pikuk perkotaan dan kerja-kerja politik yang penuh tantangan dalam melayani para konstituen.

Dari Pantai Reuyeung, Dek wan mengarahkan motornya ke pantai yang juga sangat terkenal dulunya. Konon lahan di pantai ini sudah dimiliki oleh Bulek, dulunya sudah ada bungalow dan tempat mereka berselancar, nama pantai…di Pasie Janeng.

Kawasan pantai ini juga sangat eksotis. Pantai dengan air yang jernih, kata Dek Wan, memiliki potensi batu yang bisa dibuat menjadi batu cincin.

“Memang sekarang sudah tidak lagi dapat kita temukan, tidak tahu juga kenapa bisa hilang, tapi memang bibir pantai semakin luas terkikis, jadi batu utamanya sudah masuk dalam laut,” kata Dek Wan.

Di pantai ini, pandangan kita langsung ke Samudera Hindia, takjub melihat deru ombak seakan tak berhenti menepi, membuat bebatuan yang ada tetap basah. Apalagi pepohonan nipah yang tertata rapi tumbuhnya semakin menambah eksotismenya pantai ini.

Saat menjelang petang, sekira pukul 17:00 WIB, kami menyambangi TPI Pasie Janeng. Hanya ada satu kedai yang buka, kami menyeruput kopi sambil menunggu datangnya si empunya boat, Bang Azhar. Kami rencana ingin menyusuri pantai Mata Ie sampai ke Aruih Lampuyang, tidak lupa pak Doto Murdani bernafsu memancing, katanya.

Pantai Mata Ie kelihatan dari laut. Kami tidak bisa menginjakkan kaki, tetapi kelihatan sekali pantai yang memiliki pasir putih yang begitu menawan. Menurut pawang Azhar, “Meunyoe seupot deuh mata uro lop (kalau petang, tampak matahari terbenam)” sehingga siapapun yang berkunjung ke Pulau Nasi, pasti tidak lengkap jika tidak menyusuri pantai puteh Mata Ie tersebut.

Sarana dan Pra-Sarana

Dari mana mengembalikan kejayaan Pulo Aceh, baik Pulau Nasi maupun Pulau Breuh, khusus untuk membangun ekonomi, maka syarat utama adalah pembangunan Pelabuhan dan Jalan.

Khusus untuk Pulau Nasi, dari atas kapal Papuyu, kami sudah mulai was-was, karena pernah juga kapal tidak bisa bersandar, disebabkan air surut. Ternyata Pelabuhan Lamteng yang dibangun semasa Rehab-Rekon oleh BRR NAS-Nias masih ada masalah.

“Kadang kalau air surut kami tidak bisa bersandar, karena di pintu masuk pendaratan masih ada karang yang dikhawatirkan terkena bawah dinding kapal,” kata crew kapal.

Permasalahan ini kecil, tetapi serius, semestinya jika ada masalah seperti ini, maka ada langkah penyelesaiannya. Pihak mana yang bertanggung jawab ? Pemkab Aceh Besar, Pemerintah Aceh ataukah Badan Pengelola Kawasan Sabang (BPKS), karena Pulo Aceh menjadi bagian dari wilayah otoritas BPKS.

Selanjutnya, pembangunan jalan, saat kami keluar dari pelabuhan kelihatan jalan beraspal mulus, namun banyak kotoran lembu. Kondisi demikian tentunya berdampak buruk pada jalan, jalan akan cepat rusak karena kotoran lembu membuat permukaan aspal terkelupas. Saat kami berjalan menyusuri jalan lingkar Pulau Nasi, sebagian besarnya sudah beraspal dan lebar jalannya sudah standar. Bahkan beberapa ruas jalan yang belum beraspal, pihak BPKS sudah memberikan tanda bahwa akan segera dibangun. Sejauh ini, menurut hemat saya, BPKS sudah melakukan banyak hal dalam pengembangan infrastruktur.

Selain pelabuhan dan jalan, ternyata beberapa pra-sarana sudah tersedia di sana, tetapi khususnya kawasan persawah di Gampong Rabo dan Alue Reuyeung, mereka sangat membutuhkan bendungan ataupun waduk.

”DED waduk sudah ada, namun tidak ada perhatian untuk membangunnya, meskipun tim perencana sudah berulang kali lakukan survei,” celetuk salah seorang warga saat menonton pertandingan Persiraja di kedai kopi Pasie Janeng.

Pemkab Aceh Besar juga sudah banyak membangun di sini, misalnya pemberdayaan ekonomi, memastikan keberlangsungan aktifitas pendidikan di SD-SMP dan bahkan SMU. Pemkab juga membangun puskesmas di tahun 2020 meskipun tidak selesai karena perusahaan pemenangnya tidak punya kapasitas. Begitu pula, Dana Gampong, pemanfaatan memang mulai diarahkan ke pemberdayaan ekonomi seperti pembangunan “Guest House” untuk para turis/pengunjung dari daratan.

Namun, dari semua program yang dikerjakan belum memiliki daya ungkit yang dapat berdampak pada percepatan pembangunan di Pulo Aceh. Jelas terlihat seperti tidak memiliki output dan target, makanya kegiatan-kegiatan tersebut belum terlalu berdampak pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Pulo Aceh.

Dalam perjalanan ini, saya juga mendapatkan informasi penting, ada keluhan warga Pulo Nasi bahwa penilaian mereka memang sudah banyak dilakukan oleh pihak BPKS, Pemerintah Aceh, dan Pemkab Aceh Besar, serta NGO lainnya selama ini. Namun, menurutnya, ”keterpaduan kerja antar lembaga pemerintah ini tidak terbangun, masih-masing mereka jalan sendiri-sendiri, makanya “lage Siben Drop darut, saboh drop maka watee meujak drop yang laen, ata yang kana pih dipo.”

Sudah saatnya, para stakeholder untuk membangun perencanan pembangunan Pulo Aceh yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan. Jangan lagi saling berharap atau melepas tanggung jawab dengan alasan tupoksi mereka bukan tupoksi kami, tetapi bangunlah kekuatan yang ada sebagai sumber daya dalam mengembalikan kejayaan Pulo Aceh di masa depan.

Adakah Agenda Konkrit yang Dapat Ditindaklanjuti?

Melihat potensi alam Pulo Aceh yang sangat kaya, seperti mutiara di tengah laut, alangkah naifnya kita jika tidak mampu berbuat sesuatu. Makanya, kita sepakat memulainya dari kerja-kerja kecil, tidak tergantung pada pemerintah, tetapi sedikit berkorban secara personal dalam menggali mutiara ini.

Skemanya, teori Civicus menjelaskan, relasi kekuasaan ada pada tiga komponen: pemerintah (government), masyarakat (society) dan swasta (market). Bagusnya ketiga komponen ini saling bekerjasama dalam mengelola kekuasaan yang ada untuk kepentingan pembangunan budaya, ekonomi dan politik sehingga Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dapat dihindari.

Namun, realitasnya berbeda dengan harapan idealnya, masyarakat dan swasta menjadi ketergantungan dengan program pemerintah, sehingga potensi sumber daya alam yang kaya tadi menjadi luput dimanfaatkan. Meskipun ada beberapa inisiatif masyarakat dan swasta untuk mengelolanya, tetapi rantai produksi yang terbangun malah kontraproduktif, karena kebijakan ekonomi politik yang dijalankan negara (pemerintah daerah) tidak mendukung inisiatif masyarakat/swasta tersebut.

Pasar yang diharapkan menjadi tempat “jaminan” atas produk malah menghancurkan kreatifitas petani, peternak, nelayan dan bahkan pengusaha-pengusaha yang bergerak di sektor ril. Karena pemilik modal besar (kapitalis besar) berkolusi dengan pemerintah agar kebijakan yang ditetapkan pro pada mereka. Atau lebih ironisnya, pimpinan daerah tidak menetapkan kebijakannya apapun, karena pemikiran politiknya tersandung “kekuasaan semu” sehingga tidak memiliki kerangka pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Potensi Pulo Aceh, utamanya Pulau Nasi, sebagaimana disampaikan di atas, bahwa terdapat empat potensi alam yang dapat diperbaharui di sana, antara lain, Pertama; perkebunan dengan komoditi unggulannya lawang dan kelapa. Kedua: Kelautan, ragam jenis ikan dan perairan yang cocok untuk rumput laut. Ketiga; Pertanian, memiliki potensi lahan persawahan yang cocok dikembangkan padi intensif (IP300 atau IP 400), dan Keempat; Pariwisata (garis pantai, wisata alam, pemancingan, dan sebagainya).

Langkah awal, kita mulai dengan membangun ekonomi Pulo Aceh dengan memanfaatkan segala fasilitas yang sudah dibangun pemerintah, meskipun terbatas tapi kita manfaatkan sebagai sarana pendukung. Artinya, kapal Papuyu yang sudah berlayar setiap hari, kita harus dukung dengan membawa hasil bumi dari Pulo agar dipasarkan didaratan, sehingga warga Pulo dapat meningkatkan pendapatannya.

Peningkatan produksi seiring dengan permintaan pasar dan jenis produk yang diinginkan, misalnya permintaan kelapa muda tinggi, mungkin ini salah satu komoditi yang bisa difokuskan terlebih dahulu, karena 2-3 tahun sudah berbuah. Begitu pula komoditi sayuran dan hortikultura, serta ragam jenis ikan, kiranya peran petani, nelayan dan swasta dapat menjalankan misi ini, karena kebutuhan modal tidak terlalu besar dan tidak membutuhkan investor dari Abu Dhabi.

Selanjutnya, mengajak warga daratan untuk berkunjung ke Pulo Aceh, baik Pulau Nasi maupun Pulau Breuh. Apabila ada kunjungan rutin setiap minggunya, maka uang yang akan berputar di sana pun bergerak. Jadi, travel agency dapat memulainya dengan mengadakan acara-acara wisata “weekend eco-tourism”, dapat kerjasama dengan komunitas-komunitas dan lain sebagainya. Ketika tingginya warga daratan yang mahu berkunjung, niscaya menghidupkan kedai runcit dan kedai nasi, serta para ibu akan berupaya untuk memproduksi beragam produk UKM agar pengujung dapat membelinya saat menjelang pulang.

Jadi, kita mulai dengan langkah kecil dan sederhana, sambil terus berbenah dan menyiapkan sesuatu yang menjadi kebutuhan lanjutannya. Perjalanan singkat saya adalah langkah sederhana yang bisa melahirkan langkah demi langkah untuk kemajuan Pulo Aceh, semoga Allah meridai dan memberkahi Pulo Aceh sebagai kawasan Aceh Lhee Sagoe.[]

(Tamat)

Baca Juga: Pulo Aceh: Mutiara di Ujung Sumatera (2 dari 3)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *