Kisah Ridwan Kamil Bangun Museum Tsunami Dibukukan thumbnail

Kisah Ridwan Kamil Bangun Museum Tsunami Dibukukan

Diposting pada
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil saat menghadiri serangkaian acara dalam rangka peringatan 17 tahun Tsunami Aceh di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Minggu (26/12) lalu. HUMAS PEMERINTAH ACEH

BANDA ACEH (RA) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh memperoleh piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, atas pelaksanaan wawancara tokoh/pelaku sejarah arsitek Museum Tsunami Aceh.

Pengharagaan tersebut diserahkan langsung oleh Kang Emil panggilan akrab Ridwan Kamil, kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Edi Yandra, yang turut disaksikan Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah, pada Minggu (26/12), dihalaman Museum Tsunami Aceh.

“Penghargaan ini kita peroleh, atas kinerja kita Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk menambah koleksi arsip kita dan Kang Emil ini merupakan salah satu tokoh atau pelaku sejarah terkait pembangunan museum tsunami Aceh, yang perlu kita gali ceritanya dan nantinya kita naskahkan, kita cetak, sebagai arsip naskah tokoh ataupun pelaku sejarah,” jelas Edi Yandra.

Edi Yandra menjelaskan, sejarah dibalik cerita pembangunan museum Aceh tentunya sangat penting, sebagai pembelajaran dan pengetahuan kedepannya, bagaimana Ridwal Kamil menyusun detail gambar gedung bersejarah tersebut.

“Kedepannya kita juga akan menggali dan mewawancarai beberapa tokoh terkait sejarah, peristiwa penting di Aceh, sebagai bukti sejarah yang nantinya akan kita jadikan arsip sejarah,” tambahnya.

Sementara itu, Ridwal Kamil mengatakan, dirinya memiliki kedekatan yang spesial terhadap Aceh, dimana dirinya menjadi pelaku sejarah dengan mendesain museum tsunami Aceh dan menjadi Gubernur Jawa Barat, dimana terdapat makam pahlawan Aceh, Cut Nyak Dhien.

“Saat saya merancang bangunan Museum Tsunami, saya menangis beberapa kali, karena harus mengingat maha dahsyatnya tragedi tsunami yang merengut banyak nyawa warga Aceh itu,” ujarnya.

Kang Emil merancang Museum Tsunami dengan sangat detail, dimana setiap elemen dan sudut bangunan memiliki filosopi tersendiri, seperti halnya dinding luar gedung yang menggambarkan dari tarian seudati.

“Saya merancang bangunan Museum Tsunami Aceh baik eksterior maupun interior, bukan hanya untuk mengingat peristiwa tsunami, tapi juga tempat belajar mitigasi bencana, dalam hal ini mitigasi gempa dan tsunami,” tambahnya.

Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yaitu Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh dan Ikatan Arsitek Indonesia.

Bangunan museum ini terdiri dari 4 tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa Islam. Dari arah luar dapat terlihat bangunan ini berbentuk seperti kapal, dengan sebuah mercusuar berdiri tegak di atasnya.

Tampilan eksterior yang luar biasa yang mengekspresikan keberagaman budaya Aceh terlihat dari ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan. Ornamen ini melambangkan tarian Saman sebagai cerminan hablumminannas, yaitu konsep hubungan antar manusia dalam Islam.

Tujuan dibangunnya museum ini adalah untuk mengenang gempa bumi yang mengakibatkan tsunami tahun 2004, selain itu juga menjadi pusat pendidikan dan sebagai pusat evakuasi jika bencana tsunami sewaktu-waktu datang lagi.

Bangunan museum ini didesain oleh M Ridwan Kamil yang saat ini menjabat Gubernur Jawa Barat. Desain yang berjudul Rumoh Aceh as Escape Hill ini mengambil ide dasar rumoh Aceh yaitu rumah tradisional masyarakat Aceh berupa bangunan rumah panggung.

Museum ini dibangun dengan dana sekitar Rp 70 miliar dan memiliki 2 lantai. Lantai 1 merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan fungsinya sebagai tempat untuk mengenang peristiwa tsunami.

Museum ini juga menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004, foto-foto korban dan kisah dari korban selamat. (ril/ra)