Revitalisasi Semangat Kaum Alaiddin thumbnail

Revitalisasi Semangat Kaum Alaiddin

Diposting pada

Pagi sudah menanjak menuju dhuha, Minggu, 2 Januari 2022, kesibukan mulai terlihat di Lambada Kupi. Meja dan kursi sudah di susun di bawah tenda, di halaman warung kopi berkonstruksi mirip rumah tradisonal Aceh tersebut, lengkap dengan dua meja prasmanan di sisi utara dan selatan rumah.

Sebuah spanduk dibentang di sisi depan rumah “Selamat Datang Keluarga Besar Kaum Alaiddin Dalam Rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H” bunyi spanduk tersebut. Sementara di bawah rumah panggung itu kursi dan meja sudah tersusun rapi, sebuah panggung kecil juga disiapkan di sisi barat, dekat dapur. “Kali ini kita buat beda, kalau biasanya maulid ada ceramah, hari ini kita buat FGD,” jelas Wakil Ketua Kaum Alaiddin, Tuanku Warul Waliddin yang juga Pang Ulee Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asyi.

Perayaan maulid dimulai dengan laporan ketua panitia Tuanku Alfisyahri dari kaum muda Alaiddin, dilanjutkan dengan sambutan Ketua Kaum Alaiddin Tuanku Anwar yang diwakilkan oleh Khatibul Kaum Alaiddin Tuanku Muntazar. Seremonial maulid ditutup dengan doa oleh Tuanku Muhammad dari kaum muda Alaiddin, ia juga Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) di Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh.

Usai seremonial, Focus Group Discussion (FGD) dimulai, empat panelis dihadirkan, mereka adalah: Khatibul Kaum Alaiddin Tuanku Muntazar, Wakil Ketua Kaum Alaiddin Tuanku Warul Waliddin, Kaum Muda Alaiddin Tuanku Muhammad, dan Direktur Pedir Museum Masykur Syafruddin yang juga Wakil Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa).

Panelis pertama Tuanku Muhammad memaparkan tentang peran kaum Alaiddin dalam kehidupan bermasyarakat, tentang pentingnya menjaga nasab. Menurutnya, gelar Tuanku yang disandang para kaum Alaiddin merupakan sebuah kehormatan yang harus dijaga.

“Endatu kita orang-orang yang berpikir dan berbuat untuk masyarakat. Kemulian diberikan oleh rakyat kepada kita dengan gelar Tuanku, kita harus berbuat yang lebih baik lagi dalam peran dan tingkah laku. Keberadaan kita harus benar-benar terasa dalam masyarakat,” ujarnya.

Kemudian panelis kedua Tuanku Warul Waliddin lebih banyak membahas tentang bagaimana mengembalikan kejayaan kaum Alaiddin. Ia juga mengungkapkan tentang 21 wasiat Sultan Aceh, yang salah satunya mewajibkan kepada rakyat Aceh untuk menyelenggarakan kenduri maulid Nabi Muhammad SAW selama tiga bulan sepuluh hari.

“Jadi maulid yang kita gelar ini ada dasarnya. Dalam wasiat ke-17 Sultan Aceh menegaskan bahwa diwajibkan atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan khanduri maulid akan Nabi SAW, tiga bulan sepuluh hari waktunya supaya dapat menyambungkan silaturrahim kampung dengan kampung datang mendatangani kunjung mengunjung ganti berganti makan khanduri,” ungkapnya.

Tuanku Warul Waliddin menambahkan, sejarah kejayaan masa lalu bukan sekedar nostalgia, tapi penyemangat untuk berbuat demi masa depan, berbuat dan bergerak memikirkan rakyat Aceh.

“Bagaimana kita harus mampu membangkitkan kajayaan kaum Alaiddin di semua bidang yang kita geluti, tunjukkan etos kerja yang baik. Kita harus berusaha untuk mengembalikan kejayaan kaum Alaiddin,” tegasnya.

Selain itu kata Tuanku Warul Waliddin, darah Alaiddin yang mengalir dalam nadi mereka merupak aset yang sekaligus juga beban. Aset untuk melangkah ke depan, tapi juga beban karena punya tanggung jawab moral untuk menjaganya.

“Beban ini harus membuat kita untuk terus menjaga nama baik kaum. Dengan itu negeri yang diwariskan oleh kakek kita ini akan kembali berjaya di masa yang akan datang,” tambahnya.

Panelis ketiga Masykur Syafruddin dari Mapesa menilai keberadaan kaum Alaiddin merupakan salah satu bukti keberadaan sejarah Aceh. Kaum Alaiddin harus punya spirit untuk sama-sama merawat dan melestarikan peninggalan sejarah Aceh, apa lagi banyak benda warisan sejarah Aceh yang diperjualbelikan oleh orang-orang tertentu. “Malah stempel Tuanku ada yang diambil oleh orang biasa, ini yang perlu dipertanyakan,” ujarnya.

Kemudian panelis terakhir Tuanku Muntazar selaku Khatibul Kaum Alaiddin menjelaskan tentang “Legacy” yang dimiliki oleh kaum Alaiddin. Legacy yang berbeda dengan kekuasaan, yang lebih menjurus kepada peradaban. “Dengan legacy orang bisa menanamkan sesuatu yang bermanfaat bagi pengalihan generasi,” jelasnya.

Tuanku Muntazar menambahkan, selama ini masyarakat melihat Tuanku sebagai orang yang kehilangan kekuasaan, padahal legacy lebih dari kekuasaan, dengan legacy membangun peradaban. Beda penguasa dengan orang yang membuat peradaban.

“Apa yang dilakukan sultan bersama masyarakat melawan penjajah Belanda meski tanpa kekuasaan itulah legacy. Tidak ada penyerahan kekuasaan kepada penjajah, sampai akhir hayat sultan tetap memandang Belanda sebagai musuh,” tambahnya.

Selain itu Tuanku Muntazar juga berharap kepada kaum Alaiddin agar tidak ada mental blok-blok, harus bersatu dalam satu Alaiddin. Ia juga mengutip ucapan Tuanku Hasyim Banta Muda, leumiek tanoh kubeue keumubang, leumiek go parang gob mat kuasa. Go parang itu bukan sebatas kekuasaan, tapi segala aspek. Alaiddin harus benar-benar hadir dalam masyarakat, tidak ada mental blok-blokan antara kita,” pungkasnya.[]