Di Lhoksukon, Kadus Ini Sebut Pengungsi Korban Banjir Butuh Air Minum thumbnail

Di Lhoksukon, Kadus Ini Sebut Pengungsi Korban Banjir Butuh Air Minum

Diposting pada

LHOKSUkON – Pengungsi korban banjir di Dusun Jeumpa Puteh, Desa Meunasah Ceubrek, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, membutuhkan air bersih untuk mandi, terutama air minum.

“Air minum sudah krisis. Tolong disampaikan kalau ada bantuan air sangat butuh air minum, beras, pamper untuk balita. Obat-obatan juga, tadi ada yang demam,” ujar Azwir, Kepala Dusun Jeumpa Puteh, ditemui wartawan, Selasa, 4 Januari 2021, siang.

Pelayanan kesehatan terkendala karena tenaga medis tidak bisa mengakses lokasi banjir di dusun itu. Namun, warga yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan dapat mengakses posko kesehatan TNI di Gampong Meunasah Trieng, dan Posko Polri di Gampong Meunasah Geumata, Kecamatan Lhoksukon.

Di Meunasah Ceubrek, ada tiga lokasi pengungsian, di meunasah dan rumah warga. “Alhamdulillah warga yang (permukaan) rumahnya tinggi memberi bantuan kepada warga yang rumahnya terendam banjir. Ada dua rumah yang menjadi lokasi pengungsian,” ujar Azwir diamini Hamzah, Kepala Dusun Melati.

“Di rumah saya ketinggian air masih sekitar 170 centi meter, belum bisa pulang,” tambah Azwir.

Sementara itu, di Desa Meunasah Blang, Lhoksukon, banjir masih mencapai satu meter. Di lintasan Jalan Lhoksukon-Cot Girek, Desa Meunasah Blang, air hampir sepinggang orang dewasa.

Sebagian warga Desa Meunasah Blang mengungsi ke meunasah (surau) dan balai pengajian. Seorang pengungsi, Rusdiana (36), warga Dusun Leubok Layang, Desa Meunasah Blang, mengatakan lima kepala keluarga (KK) mengungsi ke meunasah, dan lebih 10 KK mengungsi ke balai pengajian desa setempat. Sedangkan warga lainnya mengungsi ke rumah keluarga mereka yang permukaannya lebih tinggi.

“Tadi setelah surut sebagian ada yang pulang melihat kondisi rumah, ada juga yang melihat kondisi sawah”, kata Rusdiana ditemui wartawan di lokasi pengungsian desa itu.

(Kondisi banjir di Desa Meunasah Blang, Kecamatan Lhoksukon, Selasa, 4 Januari 2022. Foto: Amrizal)

Rusdiana menyebut banjir kali ini merusak dinding rumahnya yang terbuat dari terpas. Sedangkan banjir tahun 2019 lalu, dinding rumahnya yang terbuat dari kayu roboh.

“Saya belum bisa pulang menengok rumah, karena ada balita yang masih umur 2 tahun. Suami saya yang bisa pulang mengecek kondisi rumah,” ujar ibu tiga anak tersebut.

Di beberapa lokasi, banjir mulai surut, seperti di depan Kantor Bupati dan DPRK Aceh Utara, kawasan Landeng, Lhoksukon.

Sementara di pusat kota Lhoksukon, warga yang tidak terkena dampak serius mulai membuka warung kopi dan sembako. Penjual sayuran juga tampak menggelar lapak di Simpang Jalan Cot Girek.

Banjir yang melanda Aceh Utara menyebabkan kerugian harta benda, hewan ternak, tanaman padi, bahkan korban jiwa. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah menerbitkan status tanggap darurat bencana.

PLN Lhoksukon sudah mengaktifkan kembali jaringan listrik di sebagian Desa Meunasah Blang. Arminsyah, petugas PLN Lhoksukon menyampaikan bahwa belum semua gardu bisa dinyalakan. “Kita lihat kondisi air dulu, kalau nanti (selasa) malam air sudah surut, malam kita nyalakan terus. Ini (pemadaman) kita lakukan untuk menghindari kecelakaan,” ujarnya.[](mag-amrizal)