Pengguna Sinovac dan Sinopharm Tak Wajib Booster untuk Umrah, Tapi Harus Karantina 3 Hingga 5 Hari thumbnail

Pengguna Sinovac dan Sinopharm Tak Wajib Booster untuk Umrah, Tapi Harus Karantina 3 Hingga 5 Hari

Diposting pada

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Sebelum pintu keberangkatan umrah bagi jemaah asal Indonesia dibuka mulai Sabtu (8/1) besok, Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) telah lebih dulu mengutus team advance untuk mencari informasi terbaru mengenai pelaksanaan haji dan umrah langsung dari Tanah Suci.

Wakil Sekretaris Jenderal Amphuri, Syatiri Rahman mengatakan, AMPHURI sengaja mengirim tim advance untuk meninjau pelaksanaan umrah selama pandemi Covid-19, sekaligus mengedukasi umat agar kembali bersemangat melaksanakan ibadah umrah dan haji setelah 2 tahun tidak ada keberangkatan umrah dan haji.

“Dengan webinar ini calon jamaah haji dan umar memiliki gambaran penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi sesuai ketentuan pemerintah RI dan pemerintah Arab Saudi,” kata dalam webinar series update terkait pelaksanaan umrah, Rabu (5/1/2022).

Dari survei awal itu AMPHURI menemukan beberapa fakta terkait gambaran penyelenggaran umrah di masa pandemi. Wakil Sekretaris Jenderal AMPHURI, Rizky Sembada mengatakan, dalam survei itu mereka mendapatkan fakta bahwa tidak ada kewajiban booster dari pemerintah Arab Saudi bagi masyarakat yang telah menggunakan vaksin Sinovac dan Sinopharm. Hal itu berdasarkan apa yang ada dalam buku panduan penyambut kedatangan jamaah haji atau Muassasah.

“Jadi tidak ada kewajiban booster bagi Sinovac, yang penting sudah dua kali (vaksin). Vaksinasi dosis kesatu dan kedua, sudah bisa berumrah,” kata Rizky.

Baca juga: Wanita Tewas di Kamar Hotel Dalam Keadaan Mulut Berbusa, Motor Korban Dibawa Kabur Pria Teman Kencan

Baca juga: Angin Puting Beliung Landa Aceh Tenggara, 32 Rumah Rusak, SD dan Rumah Ibadah Ikut Diterjang Badai

Baca juga: Badan Bantuan Kemanusiaan Raja Salman Bantu 180 Ton Makanan ke Provinsi Abyan

Namun meski tidak harus booster, pengguna Sinovac dan Sinopharm diwajibkan menjalani karantina 3 hingga 5 hari setelah sampai di wilayah Saudi. Karena karantina merupakan kebijakan nasional pemerintah Arab Saudi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Adapun karantina memang itu merupakan kebijakan internasional dan kebijakan nasional di Arab Saudi,” lanjutnya. Selain diwajibkan menjalani karantina 3 hingga 5 hari, pengguna vaksin Sinovac dan Sinopharm juga harus melakukan tes PCR untuk menunjukkan hasil negatif.

Adapun bagi calon jamaah umrah yang menggunakan 4 vaksin yang disarankan pemerintah Saudi (Astrazeneca, Moderna, Pfizer, Johnson and Johnson), mereka tidak wajib karantina.

Selain tidak wajib karantina, alon jamaah umrah pengguna vaksin ‘empat sekawan’ ini juga akan dibagikan gelang untuk menandakan jamaah umrah/jamaah haji atau warga setempat.

“Bagi yg nonkarantina memakai vaksin empat sekawan, malamnya dibagikan gelang, jadi ada gelang kaya kita haji itu kalau mau masuk ke Arafah Mina dibagikan gelang, membuktikan bahwa kita ini adalah jemaah,” kata bendahara Umum AMPHURI, Tauhid Hamdi.

Sedangkan bagi yang tidak memiliki gelang tersebut, mereka harus mengunduh aplikasi ‘Tawakkalna’, yakni aplikasi resmi pencegahan penularan Covid-19 yang dimiliki pemerintah Saudi. “Bagi yang ada gelangnya kita bisa masuk ke masjid. Bagi yang tidak, biasanya kita menggunakan (aplikasi) Tawakkalna, jadi ke mana-mana di handphone kita ini masuk ke hotel misalnya ke mal harus menunjukkan gelang atau Tawakkalna,” ujar Tauhid.

Baca juga: Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag: Percaya Boneka Arwah Syirik

Baca juga: Turunkan Dokter Spesialis, FK Unimal Gelar Pengobatan Bagi Korban Banjir

Baca juga: PSBL Langsa Melaju ke Final Usai Kalahkan PSLS Lhokseumawe

Tauhid mengatakan, jemaah yang tak dikarantina bisa masuk ke masjid mengenakan gelang karena ada beberapa pintu yang dijaga askar yang selalu memeriksa siapapun yang masuk. Tak lupa, jaga jarak pun harus dilakukan saat jemaah sudah berada di dalam masjid.

“Setelah itu, kita lihat di masjid juga harus memakai physical distancing, jaraknya sekitar 1,5 meter per orang tidak boleh berdekatan, ada ada orang yang saya lihat berdekatan itu askar langsung tegur kemudian menegur orang tersebut menjaga jarak,” kata Tauhid.

Kemudian, sistem juga berlaku saat jemaah ingin ziarah ke Raudhah. “Masuknya dari pintu satu Vabussalam jadi kita masuk ke pintu satu Babussalam kemudian kita ziarah ke makam Rasulullah abu bakar dan Umar bin Khattab kemudian langsung keluar,” dia menambahkan.(tribun network/ras/dod)