Dolar Menguat Setelah Risalah Fed Tampak Lebih "hawkish" thumbnail

Dolar Menguat Setelah Risalah Fed Tampak Lebih “hawkish”

Diposting pada

New York (ANTARA) – Dolar AS melanjutkan penguatannya terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Desember mengungkapkan nada yang lebih hawkish dari yang diperkirakan.

Para pejabat Fed mengatakan pasar tenaga kerja AS yang “sangat ketat” mungkin memerlukan kenaikan suku bunga lebih cepat, dan mengindikasikan mereka juga dapat mengurangi kepemilikan aset bank sentral secara keseluruhan untuk menjinakkan inflasi tinggi – sebuah proses yang disebut pengetatan kuantitatif (QT), risalah pertemuan kebijakan 14-15 Desember 2021.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,16 persen pada 96,3169.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1287 dolar AS dari 1,1312 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,3525 dolar AS dari 1,3560 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia melemah menjadi 0,7165 dolar AS dari 0,7223 dolar AS.

Dolar AS dibeli pada 115,93 yen Jepang, lebih rendah dari 116,13 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS meningkat menjadi 0,9223 franc Swiss dari 0,9173 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2728 dolar Kanada dari 1,2755 dolar Kanada.

Pejabat Federal Reserve AS mengantisipasi kenaikan suku bunga lebih awal dan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya karena ekonomi terus pulih dan inflasi tetap tinggi, menurut risalah pertemuan kebijakan terbaru Fed yang dirilis Rabu (5/1/2022).

Di sisi ekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (6/1/2022) bahwa klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, naik 7.000 menjadi 207.000 dalam pekan yang berakhir 1 Januari, lebih tinggi dari perkiraan pasar 195.000.

Di tempat lain, indeks jasa-jasa dari Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 62 persen pada Desember dari rekor 69,1 persen pada November. Ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan indeks turun menjadi 66,8 persen.