Nelayan Keramba Di Lhokseumawe Gagal Panen Akibat Banjir thumbnail

Nelayan Keramba Di Lhokseumawe Gagal Panen Akibat Banjir

Diposting pada

Lhokseumawe (ANTARA) – Kalangan nelayan budi daya perikanan keramba di sentra produksi perikanan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Aceh, gagal panen akibat banjir yang melanda daerah itu sejak sepekan terakhir.

Ketua Kelompok Tani Jak U Neuheun Abdul Rauf di Lhokseumawe, Jumat, kelompok yang dipimpinnya mengelola sentra perikanan budi daya klaster Blang Mangat dengan luas mencapai 70 hektare.

“Banjir yang terjadi beberapa hari terakhir merendam tambak budi daya udang vaname dan ikan bandeng, sehingga kami gagal panen. Kerugian diperkirakan ratusan juta rupiah,” kata Abdul Rauf.

Selain direndam banjir, kata Abdul Rauf, tambak budi daya perikanan juga rusak parah akibat terjangan banjir, sehingga hampir semua ikan dan udang budi daya keramba dibawa arus air.

Padahal, kata Abdul Rauf, pada Januari ini sudah memasuki musim panen. Namun, setelah dilanda banjir, harapan nelayan menjadi buyar karena ikan dan udang budi daya tersebut terbawa arus banjir. 

“Kami dengan 40 nelayan hanya bisa pasrah dengan musibah ini. Untuk modal budi daya perikanan ini sebagian dari kami meminjam dana pihak ketiga,” kata Abdul Rauf.

Abdul Rauf mengatakan dalam setiap panen mampu menghasilkan lima hingga 10 ton udang vaname atau 300 kilogram per hektare dan ikan sebanyak dua sampai tiga ton. 

Ketua Kontak Tani Nelayan (KNTA) Kota Lhokseumawe Azhar mengatakan lokasi sentra produksi perikanan budidaya klaster Blang Mangat berada di empat desa yakni Desa Teungoh, Desa Tunong, Desa Ulee Blang Mana, dan Desa Meunasah Mesjid.

Menurut Azhar, saat ini pihaknya belum dapat memprediksi berapa ikan dan udang yang tersisa di sentra perikanan tersebut. Namun perkiraan sementara hanya tersisa ratusan kilogram saja. 

“Setelah air sudah normal, baru bisa memprediksi berapa sisa ikan dan udang yang tersisa. Untuk kerugiannya, ditaksir mencapai Rp500 jutaan,” kata Azhar menyebutkan.

Azhar mengharapkan pemerintah daerah dapat mengasuransikan para petani budi daya perikanan agar jika terjadi banjir tidak mengalami kerugian seperti sekarang.

“Rata-rata nelayan di klaster perikanan ini mendapatkan modal dari pinjaman pihak ketiga. Jika bencana seperti ini, bagaimana cara nelayan membayar pinjaman tersebut. Kalau ada asuransi, minimal bisa balik modal,” kata Azhar.